Pandemi Covid-19 sudah berhasil membuat masyarakat menjadi lebih waspada terhadap satu sama lain. Bagaimana tidak? setiap harinya kita dihadapkan dengan kenyataan bahwa virus tersebut hidup berkeliaran di dunia ini. Dalam menghadapi pandemi, beberapa orang cukup beruntung untuk bisa “bertahan” di masa-masa sulit seperti ini. Namun, bagi sebagian yang lainnya pandemi sudah seperti bencana besar yang langsung membuat masyarakat menjadi panik, gelisah, dan perasaan-perasaan yang kurang baik lainnya. Berbagai upaya untuk mengurangi penyebaran virus ini pun sudah dilakukan semaksimal mungkin. Mulai dari kampanye untuk sering mencuci tangan, menjaga jarak, memakai masker, menjauhi kerumunan dan mengurangi mobilitas, sudah menjadi makanan sehari-hari bagi para masyarakat.

Dari rentang waktu antara Maret hingga Desember 2020, setiap harinya masyarakat dihadapkan dengan pemberitaan yang kurang menyejukkan. Hingga pada akhirnya secercah harapan datang pada tanggal 6 Desember 2020 yakni, vaksin Covid-19 masuk ke Indonesia. Adanya respon yang beragam dari masyarakat tentu saja membuat topik tentang vaksin ini menarik untuk dibahas. Nah, dari sini tentu akan timbul pertanyaan, apakah ada faktor yang memengaruhi kepercayaan masyarakat akan hadirnya vaksin covid-19 ini?. Dalam hal ini saya akan mencoba membahas dari sudut pandang psikologi komunikasi.

Faktor personal dari individu sudah pasti menjadi alasan penting dalam merespon berita ini, keadaan biologis manusia yang bersifat ingin tahu, sangat terlihat pada saat kedatangan vaksin. Manusia mencoba mencari tahu apakah vaksin ini halal untuk digunakan? apa efek sampingnya?, dan masih banyak hal lain yang membuat rasa ingin tahu menjadi memuncak. Keadaan emosi yang sudah campur aduk dalam menghadapi pandemi pun seketika “agak mereda” semenjak kedatangan vaksin ini. Keinginan untuk memperoleh rasa aman dan nyaman juga menjadi salah satu faktor kuat yang mendorong masyarakat untuk segera mendapatkan vaksin.

Namun, tidak semua orang bisa langsung percaya terhadap vaksin. Dilansir dari survei yang dilakukan oleh Kemenkes, WHO, dan Unicef, mereka menemukan berbagai alasan mengapa masih ada sebagian orang yang tidak ingin divaksinasi, diantaranya adalah rasa takut akan jarum suntik, efek samping dari vaksinasi, dan juga sebagian yang lain masih memikirkan tentang keefektifan vaksin tersebut. Nah, dari sini bisa kita lihat bahwa adanya sifat bawaan dari manusia, seperti takut dengan jarum suntik bisa menjadi salah satu faktor yang membuat beberapa orang tidak ingin mengikuti vaksinasi. Selain itu masih ada faktor personal lainnya yakni mengenai kepercayaan, yakni masih ada sebagian orang yang beranggapan bahwa mendalami hal-hal spiritual adalah salah satu cara untuk mencegah virus masuk ke dalam tubuh manusia.

Selain adanya alasan personal, faktor situasional juga sangat memengaruhi cara berpikir individu dalam penerimaan vaksin ini. Keadaan lingkungan yang sering memberitakan tentang vaksin tentu lebih mudah dalam penerimaan kegiatan vaksinasi ini. Tentu akan berbanding terbalik jika keadaan lingkungannya acuk tak acuh dan tidak terbuka dalam penerimaan informasi. Adanya teknologi juga menjadi alasan ketika kita ingin mengakses informasi mengenai vaksin. Namun di sisi lain, teknologi juga memberikan dampak yang kurang baik tentang vaksinasi ini. Kaum-kaum yang masih kurang percaya terhadap covid-19 dan vaksin, juga bisa menyebarkan hoax yang bisa membuat masyarakat menjadi bingung atas informasi yang diterima.

Nah dari penjelasan di atas, kita bisa melihat bahwa masih ada faktor personal dan situasional dalam menyikapi pemberitaan vaksin ini. Beberapa sifat bawaan manusia sudah semestinya kita lawan agar proses vaksinasi ini berjalan dengan lancar. Pemerintah dan masyarakat sudah sepatutnya bekerjasama untuk bisa sesegara mungkin mengurangi penyebaran virus ini.

Refrensi

Drs. Jalaludin Rakhmat, M.Sc. (2011) . Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rrosdakarya.

Kemenkes, WHO, UNICEF. (2021) Survei Penerimaan Vaksin Covid-19 di Indonesia.

Rokom. (2021). Survei Tunjukkan Mayoritas Masyarakat Indonesia Bersedia Menerima Vaksin COVID-19. Diakses pada 13 September 2021, dari https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/umum/20201117/4935712/survei-tunjukkan-mayoritas-masyarakat-indonesia-bersedia-menerima-vaksin-covid-19-2/

*) Opini penulis ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi sparklingcommunication.web.id