Oleh : Jeni Ananda Nur Islam

Mahasiswa Universitas Mulawarman Program Studi Ilmu Komunikasi

Bunyi lonceng menggema nyaring ke seluruh penjuru desa. Membangunkan yang terlelap, meneror yang terjaga. Setiap wajah kini diliputi teror mencekam. Panik menyusup di dalam dada para warga, mereka bergerak tergesa memastikan anggota keluarga ada di tempatnya, karena seseorang jelas telah masuk ke sana.

Menara lupa.

Tidak ada yang tahu menara itu dibuat pada masa apa dan untuk keperluan apa. Yang mereka tahu, menara itu sudah ada sejak dahulu kala. Jiwa-jiwa yang putus asa singgah di sana, berharap apapun yang bersemayam di menara dapat menghilangkan kenangan kelam dari kepala mereka.

Raungan tangis kemudian terdengar. Seorang wanita yang tengah hamil berjalan terseok-seok menuju asal suara. Sebagian warga melihatnya dengan iba, sebagian yang lain menganggap mereka pantas mendapatkannya. Beberapa berusaha menolong wanita tersebut, mencegah niatnya untuk pergi ke menara lupa, menyusul suaminya, sang pesulap.

Sang pesulap menaiki anak tangga batu menuju puncak menara dengan tergesa. Ia menggenggam erat lentera di tangannya. Rasa marah, takut, dan putus asa bergumul di dalam hatinya dan menghilangkan akalnya. Ia tidak lagi peduli apakah menara ini benar- benar dapat membantunya melupakan segalanya, menyesatkannya, atau Ia pada akhirnya tidak menemukan apa-apa dan cerita-cerita tersebut hanyalah cerita tanpa makna.

Ketika akhirnya Ia menemukan ujung dari tangga-tangga batu dan dipertemukan pada puncak menara, Sang pesulap mengedarkan pandangannya, berusaha menemukan sesuatu, atau seseorang. Namun yang Ia temukan hanyalah kegelapan belaka.

Dadanya semakin dipenuhi rasa putus asa, sebelum samar-samar Ia mendengar suara tawa anak kecil dan cahaya perlahan muncul di sekelilingnya. Di sana, tepat di hadapannya, Sang pesulap melihat seorang anak. Anak itu tertawa dengan mata berbinar penuh rasa penasaran, menyaksikan seorang pesulap jalanan yang sedang tampil di balai desa. Sang pesulap ingat, usianya masih 8 tahun saat itu. Saat Ia memutuskan bahwa menjadi pesulap adalah mimpinya.

Bayangan dirinya yang berusia 8 tahun perlahan berubah. Yang ada dihadapannya kini adalah dirinya saat duduk di sekolah menengah pertama, saat Ia pertama kali menunjukkan trik sulapnya di hadapan banyak orang di pentas seni sekolah. Ia saat itu terlihat gugup, namun binar bahagia juga terlihat di sana.

Potongan adegan demi adegan terus muncul. Bayangan dirinya kemudian terus berubah, menampilkan kenangan demi kenangan menyenangkan dalam hidupnya. Saat Ia mulai tampil sebagai pesulap pada acara-acara desa. Saat seseorang membawanya pergi ke kota untuk tampil di televisi. Kemudian saat namanya melejit hingga Ia dikenal semua orang di seluruh penjuru negeri. Ia mengingat semua saat-saat itu. Semua perjuangan yang telah Ia lakukan untuk mewujudkan mimpinya. Semua senyum-senyum yang hadir karena pertunjukannya. Semua kenangan-kenangan indah yang Ia miliki. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Sang pesulap merasa bahagia, senyumnya terulas sempurna.

Namun potongan adegan-adegan itu tidak berhenti di sana.

Kenangan-kenangan indah itu kemudian memburam. Bunyi meriah tepuk tangan perlahan tergantikan oleh jerit-jerit ketakutan. Di sana, Ia melihat dirinya bersimbah darah. Sang pesulap menyaksikan pertunjukan terakhirnya. Satu kesalahan kecil, hanya satu kesalahan kecil, mampu membuatnya menjadi pembunuh. Trik sulapnya gagal, dan Ia berakhir memutilasi sahabatnya hidup-hidup.

Senyum yang sempat terulas di wajah sang pesulap hilang sempurna, digantikan oleh wajah penuh amarah, jijik, dan rasa bersalah. Ia marah pada dirinya sendiri, pada apa

yang telah diperbuatnya, dan pada kenyataan bahwa Ia tidak akan pernah bisa mengubah masa lalunya. Sang pesulap perlahan menyeret kakinya menuju bayangan dirinya yang masih terduduk di tengah panggung dengan wajah ketakutan. Sang pesulap merasa muak. Semakin dekat Ia dengan dirinya, semakin besar kebencian yang bergumul di hatinya.

Hingga ketika Sang pesulap sampai di hadapan bayangan dirinya, Ia mencekiknya. Wajahnya memerah, cekikannya menguat. Bayangannya hanya meronta tanpa tenaga, sebelum akhirnya terkulai lemas dan hilang perlahan.

Wajah Sang pesulap terlihat puas. Senyumnya kembali merekah. Namun sayang, Sang pesulap tidak menyadari apa yang sedang terjadi pada dirinya.

Tidak ada yang tahu menara itu dibuat pada masa apa dan untuk keperluan apa. Yang mereka tahu, menara itu sudah ada sejak dahulu kala. Jiwa-jiwa yang putus asa singgah di sana, berharap apapun yang bersemayam di menara dapat menghilangkan kenangan kelam dari kepala mereka.

Cerita tentang menara lupa yang mampu menghapuskan kenangan-kenangan buruk seseorang diceritakan dari generasi ke generasi, termasuk bunyi lonceng yang menjadi pertanda tibanya pengunjung di sana. Namun orang-orang yang keluar dari sana lebih sering berubah menjadi orang ling-lung tak berakal, sehingga seiring berjalannya waktu, menara itu tidak lagi didatangi siapapun. Cerita itu kemudian dianggap mitos belaka. Namun warga desa itu tau pasti bahwa kenyataannya tidak demikian. Kekuatan magis kuno bersemayam kuat di sana. Menyesatkan jiwa-jiwa yang putus asa dan melahap kenangan mereka. Sedang manusia bukan siapa-siapa tanpa kenangannya, tanpa masa lalunya.

*) Artikel penulis ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi sparklingcommunication.web.id