Oleh : Wafiq Azizah

Mahasiswa Universitas Mulawarman Program Studi Ilmu Komunikasi

Suara sorakan itu terusmenerus terdengar sejak tadi pagi. Mahasiswa dari berbagai Universitas di kotaku bersama-sama turun ke jalan menyuarakan aspirasinya. Gedung Dewan Perwakilan Rakyat hari ini dipenuhi lautan manusia dengan berbagai warna namun dengan tujuan yang sama. Kalimat “Hidup Mahasiswa! Hidup Buruh! Hidup Perempuan Berlawan!” tidak henti-hentinya terdengar ditelingaku. Matahari makin meninggi, sekarang sudah pukul 12 siang dan tidak ada tanda-tanda aksi hari ini akan berakhir. Sebenarnya aku berada di sini bukan karena keinginanku sendiri, tetapi karena teman-temanku yang sangat antusias untuk ikut berpanas-panasan sambil berteriak untuk menjalankan ‘fungsinya’ sebagai mahasiswa, aku dipaksa untuk ikut. Sejujurnya aku lebih suka menghabiskan waktu membaca buku di perpustakaan berjam-jam ketimbang seperti sekarang yang hasilnya saja kita tidak pernah tau akan didengarkan atau justru diabaikan begitu saja. Lagi pula, apalagi yang diharapkan dengan pemerintah kita? berharap mereka turun dan duduk manis bersama kita, mendengarkan aspirasi kita lalu mengabulkannya? aku rasa permintaan semanis itu pun juga akan sulit untuk dikabulkan.

“Kamu nggak mau ke depan sana? di sini nggak guna tau, Dim. Pemerintah nggak bakalan denger suaramu di sini, ayo cepat ikut aku ke barisan depan” ucap salah satu temanku. Dia baru saja kembali dari kerumunan di barisan depan. Semangatnya masih banyak sekali, entah apa yang membuatnya begitu berapi-api hari ini. “Dim, kamu nggak kasihan sama korban kekerasan seksual? bayangin Dim, kalau adik perempuanmu jadi korban gimana? terus pelakunya nggak diberi hukuman yang setimpal, nggak sesuai sama apa yang dia lakukan. Bayangin, Dim! Ayo buruan” ia menarik lenganku paksa.

“Kamu tahu apa sih soal akan didengarkan atau tidak? Kita juga baru semester 1, baru pertama kali ikut-ikut kaya gini. Gini, ya. Kalau memang didengarkan, harusnya sejak tadi pagi kita sudah bubar karena dari pagi sudah banyak banget orang-orang yang berdiri di barisan depan. Nggak harus sampai berjam-jam kaya sekarang. Sudahlah, aku mau pulang saja! kalau kamu masih mau berlama-lama di sini untuk menerima hasil yang nggak pasti, terserah kamu” seketika, teman baikku itu terdiam. Aku yakin dia juga memikirkan hal itu, tapi dia pasti punya alasan lain lagi untuk tidak ikut bersamaku untuk pulang. Lagi pula, urusan kasihan sama korban aku dan keluargaku justru lebih paham bagaiana sakitnya. Adik kandung ibuku, pamanku adalah salah satu korbannya. Dia disiksa, dipukul dan dilecehkan bergilir oleh atasan nya bertahun-tahun. Adik ibu yang lemah dan tidak berdaya tidak bisa berbuat banyak karena baginya bekerja untuk mendapatkan uang lebih penting. Apapun yang terjadi, ia tetap harus terus bekerja karena dia adalah tulang punggung keluarga. Aku ingat jelas mata ibuku saat menceritakannya, jelas sekali dimatanya penuh dengar kemarahan dan kebencian. Aksi bejat yang diterima adik kandungnya menaruh luka yang besar dikeluarga kami. Dan yang menyebalkan adalah tindakan tidak beradab itu diketahui setelah akhirnya paman jatuh sakit dan mengalami depresi. Tidak ada satupun orang di dunia ini yang tidak merasa iba jika salah satu keluarganya diperlakukan seperti itu. Tetapi, sekali lagi. Apalagi yang bisa diharapkan oleh pemerintah kita?

Setelah dia pergi meninggalkanku menuju kerumunan mahasiswa di depan sana, aku memutuskan untuk pulang kerumah. Perutku sudah keroncongan sejak tadi, harusnya aku tidak perlu memaksakan diri untuk ikut. Oke, kali ini juga kesalahanku. Aku melangkahkan kakiku menuju rumah. Sesampainya di rumah, aku melihat ayahku yang masih duduk di depan TV menonton berita. Ibu yang sepertinya masih memasak karena aroma ayam goreng kesukaanku begitu menyengat hingga di depan pintu masuk. Seperti peramal, ayah tiba-tiba bertanya padaku “Baru pulang dari aksi ya kak? kok cepat pulangnya?” aku memutuskan duduk disamping ayahku, bersandar di sofa lalu menutup mata. “Diajak teman tadi di kampus” ayah mengangguk saja.

“Ayo makan siang!” suara ibu dari dapur terdengar, aku dan ayahku bergegas menuju ruang makan. Aku membantu ibu menyusun piring di meja makan dan ayah membantu menyusun air minum sementara Ibu dan adikku Anjani sibuk menata lauk pauk dan nasi. Setelah semuanya siap, kami duduk dan mulai makan. Tanpa suara, yang tedengar hanya dentingan sendok dari masing-masing piring kami.

“Ibu dengar tadi katanya kamu ikut aksi ya kak?” ibu tiba-tiba bertanya.

Jelas semua mata sekarang tertuju padaku. Aku masih terus mengunyah ayam gorengku.

“Kak! seriusan? Terus kok pulang sih?” bahkan adikku sekarang ikut bersuara.

Aku mengangguk saja dan tetap melanjutkan kunyahanku.

“Hari ini tentang apalagi kak?” ayah bertanya.

“RUU PKS” meskipun aku tidak ikut berpanas-panasan tadi, aku tetap tahu tuntutan apa yang sedang dibawakan.

Ayah mengangguk lalu kembali mengunyah makan siangnya.

“Tadi bareng sama siapa kak? tumben kamu ikut-ikut kaya gitu, biasanya selalu nolak kalau diajakin temennya” tanya ibu.

Nasi di mulutku masih penuh, aku mengunyahnya cepat lalu menjawab “temen bu”.

“Lalu bagaimana kak? sudah ada hasilnya?” Ayah jelas penasaran, karena setahuku ayah juga mengikuti perkembangan RUU ini yang tak kunjung disahkan sejak 2012.

“Nggak tau yah, Dimas pulang duluan kan tadi. Lagi pula, tidak ada gunanya juga menunggu”

Raut wajah ibu menjadi datar, bisa kutebak saat ini yang dipikirkannya adalah adiknya. Kami semua sama-sama tahu, kami sudah menunggu bersama selama 10 Tahun. Menunggu keadilan yang selalu diagung-agungkan Negeri ini, tetapi tidak untuk keluarga kami. Menunggu disahkannya peraturan yang jarak antara palu dan ketukannya hanya sebesar sejengkal bayi manusia.

“Kamu nggak kasihan sama pamanmu, Kak? Harusnya kamu melanjutkan perlawananmu itu. Bukan cuma untuk pamanmu tapi juga untuk orang-orang di luar sana. kamu tahu sendiri kan, Negara ini makin hari makin tidak berperi kemanusiaan” kata ibu.

Berkali-kali juga aku jelaskan pada ibu, bahwa kita tidak bisa mengubah apapun kecuali kita punya kekuasaan. Tapi ibu masih dengan harapannya sepuluh tahun lalu, berbeda dengan ayah yang paham dengan kenyataan yang terjadi. Ayah lebih banyak diam dan mengamati ketimbang ibu yang terusmenerus membicarakan kejadian pahit yang menimpa adiknya.

“Bu, kalau dengan aksi semuanya bisa terselesaikan harusnya sejak 2012 kita tidak perlu menunggu lagi bu. Harusnya tidak ada lagi korban kekerasan seksual bu. Harusnya tidak ada lagi juga ketidakadilan yang harus diterima korban bu.” Aku menyelesaikan kalimatku dengan satu tarikan napas.

“Dimas!” Ibu memanggil namaku dengan nada yang jika kalian bisa dengar rasanya seperti ingin diterkam hidup-hidup saat itu juga.

“Tidak hanya RUU PKS ini bu, Omnimbus Law yang mati-matian kita tolak kemarin tetap saja kita rakyat yang kalah bu, kenapa? ya, karena kita cuma rakyat. Nggak bakal didengarkan. Dimas nggak mau naif bu.”

Wajah ibu memerah, jelas sekali ibu menahan marah. Aku paham betul mengapa ibu marah, aku juga paham betul bagaimana rasanya diperlakukan tidak adil, aku juga merasakan hal yang ibu rasakan. Adik ibu itu pamanku, mana mungkin aku tidak marah jika dia diperlakukan seperti itu. Tapi ini urusan lain, ini urusan diluar batas kemampuanku. Bukan karena aku tidak mampu, tapi karena aku memang belum punya kapabilitas untuk menetapkan undang-undang, aku hanya seorang mahasiswa biasa yang sehari-harinya mengerjakan laporan lab dan mengerjakan essay. Kalau masalah aksi, aku harus jelaskan berapa kali lagi? yang pasti jika kita ingin mengubah suatu sistem bukan protes jawabannya, tapi masuk kedalamnya. Jadi orang berkuasa dan punya wewenang cuma itu satu-satunya jalan yang masuk akal. Tidak dengan teriak-teriak didepan gedung Dewan Perwakilan Rakyat.

“Tetap saja kak, harusnya ikut saja. kalau bukan kamu siapa lagi?” Ibuku benar-benar tidak bisa berhenti.

“Banyak kok yang ikut, Dimas nggak perlu ikut”

Ibu meletakkan sendoknya.

“Kamu nggak mau bantu pamanmu? pamanmu juga korban yang dirugikan, Dim. Kalau undang-undang ini disahkan 1 keadilan bisa tegak lagi nak” raut wajah ibu semakin kesal.

“Kenapa Ibu tidak ikut protes saja tadi kalau begitu?”

“Kak, jaga omonganmu” Anjani berusaha menahanku. “Apa yang salah jan?” adikku itu seketika meninju bahuku keras dengan tangannya.

“Yang dikatakan kakakmu itu benar, Anjani. Tapi kak,” sekarang ayah menatap kearahku “Diam saja juga tidak mengubah apapun kan, Kak?” pernyataan sekaligus pertanyaan ayah membuatku terdiam.

“Tidak ada perlawanan yang sia-sia kak, selagi yang kita perjuangkan adalah hal yang baik” setelah itu ibu tidak bersuara lagi, ia melanjutkan menghabiskan makanan dipiringnya. Aku tahu ibu kesal dan kecewa padaku lagi hari ini. Tetapi jujur, ini benar-benar melelahkan.

Makanan di piringku tinggal setengah, aku meneguk segelas air lalu buru-buru menghabiskannya karena setelah ini aku harus mengerjakan tugas kimia lagi. Tepat sebelum dua sendok terakhir piringku tersapu bersih, ayah berbicara lagi.

“Realistis itu perlu nak dalam hidup” ia menarik napasnya sebentar “tapi kali ini gunakan nuranimu apalagi di depan orang yang berada diposisi korban. Harusnya kamu juga bisa lebih paham karena pamanmu itu bukan orang lain. Dia adik kandung Ibumu” aku diam saja lalu beranjak dari meja makan namun dicegat oleh ayah. “duduk dulu, ayah belum selesai bicara” aku menurut. “Kakak juga pasti sudah paham, banyak cara untuk melawan bukan hanya dengan aksi bukan?” aku mengangguk setuju. “Satu lagi, yang penting kita ingat…setiap langkahmu, langkah kita, apakah terlihat atau tidak, adalah sebuah kontribusi. Sudah, sana masuk ke kamarmu” kata ayah menyelesaikan kalimatnya.

Kemudian aku melangkahkan kakiku menuju kamarku. Ketika berada di ruang keluarga, mataku tertuju pada kamar Ayah dan Ibu yang pintunya terbuka. Di sana kulihat banyak tumpukan kertas, aku mendekat masuk dan mengambil salah satu selembaran itu. Hatiku rasanya sakit saat membaca isinya. Selembaran itu berisi penjelasan mengenai RUU PKS dan ajakan untuk masyarakat agak segera mendesak pemerintah untuk mengesahkan RUU tersebut. Aku terdiam cukup lama, membaca semua tulisan pada kertas itu. Sekarang aku mengerti maksud kalimat terakhir ayah beberapa menit lalu. Aku mengambil selembar kertas itu lalu buru-buru masuk kedalam kamarku. Merebahkan tubuhku ke atas kasur sebentar, lalu tiba-tiba suara notifikasi pesan dari Smartphone ku terdengar

Ting !                                                                 

Ternyata pesan dari temanku tadi yang memaksaku untuk ikut dengannya beridiri di barisan paling depan. Iya, namanya Doni. Mungkin aku lupa menyebutkannya diawal, dia teman SMA ku dulu. Sekarang kami berkuliah di Universitas yang sama namun dengan jurusan yang berbeda.

“besok titik aksinya sama seperti hari ini, kamu mau ikut nggak Dim? Kalau iya, aku jemput selesai kelas” lama kupandangi isi pesan darinya. Aku terus memikirkan perkataan ayah dan ibu di meja makan tadi. Setelah berpikir cukup lama dan meskipun keraguan masih ada dilubuk hatiku yang paling dalam, aku membalas pesan Dion.

oke

Pada akhirnya aku menjadi seorang yang munafik pada diriku sendiri. Ini sejujurnya benar-benar menyebalkan. Tetapi setelah melihat usaha ibu dan ayah yang tak pernah aku tahu, aku merasa tidak semestinya untuk terus mengkritisi sesuatu tanpa melakukan apapun. Aku menghembuskan nafasku kasar lalu menutup kedua mataku.

Biarlah aku menjadi seorang hipokrit, yang tidak percaya dengan buah hasil perjuangan tapi tetap ikut meneriakan tuntutan. Biarlah aku menjadi seorang hipokrit, setidak-tidaknya aku sudah berjuang, setidak-tidaknya aku sudah melawan.

*) Artikel penulis ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi sparklingcommunication.web.id