Oleh : Wanda Aldyssa

Mahasiswa Universitas Mulawarman Program Studi Ilmu Komunikasi

“Huftt lelahnya”

Elsa membaringkan tubuhnya di kasur berniat untuk tidur setelah menyelesaikan tulisannya di wattpad. Elsa sudah lama menjadi penulis di aplikasi tersebut tersebut, bahkan ia sudah menekuninya sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama dan sudah ada beberapa bukunya yang telah terbit.

Elsa sangat menyukai menulis, baginya menulis adalah cara agar hidupnya lebih berwarna karena baginya hidupnya saat ini sangat membosankan dan monoton. Elsa iri kepada teman-temannya yang cantik dan kaya raya, menurutnya orang-orang seperti itulah yang mudah sekali untuk mendapatkan teman yang banyak.

Beberapa menit kemudian Elsa terlelap dalam tidurnya dan terbangun dari tidurnya saat matahari mulai meninggi, ia mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk dalam kamarnya.

“apa-apaan? Dimana ini? Ini bukan kamarku” ia terbangun di sebuah kamar mewah dan luas.

Ia melangkahkan kaki untuk keluar kamar sambal memanggil-manggil Ibunya. Lalu datang wanita paruh baya berjalan dengan tergesa-gesa menghampirinya.

“Eh non, mamahnya baru berangkat kerja, itu sarapannya juga sudah siap, mau sarapan dulu atau mandi dulu? biar saya siapkan”

“Ibu siapa ya?”

Wanita itu bingung, “Saya Lastri non, yang kerja disini”

Elsa sama bingungnya dengan wanita ini. “Apa aku bermimpi ya?” batinnya.

Ia diam-diam mencubit tangannya sendiri, “Aduh sakit, berarti bukan mimpi dong”

“Bi, nama aku siapa ya?”

Alis Lastri semakin berkerut, “Non Laras lagi sakit?”

Benar dugaannya, ia masuk ke dalam buku yang sedang ia tulis sendiri, tapi Elsa belum terlalu yakin karena bukunya saja belum selesai di tulis dan baru pada tahap pengenalan karakter.

////

Elsa mengikuti saja alur cerita ini, toh kehidupan yang seperti inilah yang di dambakannya selama ini, menjadi gadis cantik, kaya raya, dan baik hati sudah seperti Cinderella. Inilah karakter yang dia buat didalam bukunya, karena karakter tersebut bertolak belakang dengan kehidupannya yang asli maka dari itu dia membuat karakter yang ia dambakan.

Sesampainya di sekolah banyak pasang mata yang sering curi-curi pandang terhadapnya, “Pasti banyak yang ingin berteman deh” batinnya.

Di kehidupannya yang asli jangankan curi-curi pandang orang-orang melihatnya pun tidak, dia hanya satu dari beberapa gadis cupu di sekolah, seperti pemeran figuran. Temannya adalah gadis yang hidupnya sama monotonnya dengan Elsa.

Sesampainya di kelas Elsa yang sekarang sebagai Laras sedang duduk memperhatikan teman-temannya yang sedang asyik mengobrol.

Ia bingung kenapa sedari tadi tidak ada yang menyapanya, mungkin mereka takut atau malu karena ia kan paling cantik di kelas, pikirnya.

////

Saat jam istirahat pun sama, tidak ada satupun temannya yang mengajak ke kantin atau makan bersama. Hanya ada beberapa anak kutu buku yang mengajaknya makan bersama namun ia menolaknya. “Huh sebalnya masa di kehidupan ini pun aku harus berteman dengan cupu-cupu”.

Elsa pun pergi ke kantin sendiri dengan kesal dan berniat untuk bergabung dengan teman sekelasnya yang lain.

“Aku boleh duduk disini? Nanti aku traktir” beberapa anak perempuan itu menoleh dan terdiam sejenak.

“Iya boleh, duduk aja” sahut salah satu anak.

Saat anak-anak itu asyik bersenda gurau, mereka sama sekali tidak menghiraukan keberadaan Elsa, ia pun kesal dan segera pergi dari sana tanpa sepatah kata pun.

Elsa menuju toilet karena tidak mau juga Kembali ke kelas sebab teman-temannya yang kutu buku pasti ada dikelas, ia lebih memilih sendiri daripada harus bergaul dengan orang-orang seperti itu lagi.

Setelah masuk ke dalam bilik, elsa mendengar suara anak-anak perempuan masuk ke toilet, “MSungkin anak-anak tadi”.

“Lihat tidak tadi si Laras, sok akrab sekali”

“Iya, pasti sudah tidak punya teman makanya pura-pura baik”

“Syukurin tuh, siapa juga yang mau berteman dengan anak sombong”

Elsa mendengar semua pembicaraan mereka dari dalam bilik, ia kesal namun tidak berani untuk keluar dalam bilik tersebut sampai anak-anak tersebut pergi dari sana.

///

Sesampainya ia dirumah ia hendak mengadukan perbuatan teman-temannya kepada ibunya.

“Bi Lastri, mamah kemana ya?”

“Mamah kan masih kerja non, pulangnya nanti malam”

“Papah?”

“Di luar kota dari tiga hari yang lalu”

Elsa pun masuk ke dalam kamarnya dan menangis, Elsa bingung kenapa kehidupan karakter fiksi yang dia buat menjadi seperti ini? Seharusnya Laras adalah gadis baik hati dan memiliki banyak teman. ia rindu kehidupannya yang asli, ia rindu ibunya yang hanya ibu rumah tangga dan selalu ada kapan pun disaat Elsa butuh, ia rindu teman-temannya yang mau berteman dengan tulus dengannya. Ia pun sadar bahwa ia hanya masuk ke dalam dunia fiksi, tapi tidak dengan sifatnya, sifatnya adalah asli. Ia Elsa bukan Laras, maka dari itu alur cerita berubah. Elsa mendambakan kehidupan Cinderella, namun Elsa lupa bahwa Cinderella memiliki hati yang lembut, Cinderella tidak sombong, ia lupa bahwa kehidupan Cinderella pun tidak sempurna.

Elsa merenungi perbuatannya, seharusnya ia bersyukur dengan kehidupannya, tidak ada hidup seseorang yang sempurna. Ia selama ini terlalu sibuk menginginkan kehidupan orang lain, melihat perkembangan orang lain sehingga ia lupa ia tidak berkembang. Seharusnya ia sejak dulu bisa menata hidupnya agar menjadi lebih baik lagi. Elsa menyesalinya sekarang, ia menangis sampai tidak sadar telah terlelap.

Elsa bangun di pagi hari, di kamarnya. Iya, kamarnya yang asli. Ia buru-buru keluar kamar untuk menemui ibunya yang berada di dapur dan memeluknya. Ia berjanji mulai saat ini akan selalu bersyukur denga napa yang ia punya dan akan memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi.

*) Artikel penulis ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi sparklingcommunication.web.id