Oleh : Azizah Aghniya Zain

Mahasiswa Universitas Mulawarman Program Studi Ilmu Komunikasi

Bonita Cilia, nama tokoh utama cerita pendek kali ini. Ia biasa dipanggil Bocil. Iya, itu singkatan nama yang dibuat oleh mamanya sendiri, mama bilang lebih enak memanggilnya dengan sapaan “Bocil”. Entah apa yang merasuki dirinya sampai bisa membuat singkatan nama unik itu. Nama Bocil tidak hanya menjadi panggilan di rumahnya tapi para tetangga hingga teman-teman sekolahnya memanggilnya Bocil.

Dulunya Bonita biasa saja disapa Bocil, namun makin kesini ia merasa kesal karena kata “Bocil” diperuntukkan untuk anak-anak dibawah umur, sedangkan sekarang ia sudah memasuki semester 2 perkuliahan. Anak-anak kecil di komplek perumahannya bahkan memanggil dan berteriak kepadanya, “Heiiii, ada bocil nihhhh” ucap salah satu anak lelaki umur 7 tahun ingusan sambil menyeruput es dari sedotan yang berada di plastik yang ia genggam. Hal ini membuatnya geram terhadap bocil-bocil asli itu.

Bonita lahir sebagai anak tunggal dan sangat disayang oleh kedua orang tua nya dan bisa dibilang ia sangat dimanjakan. Saat Bonita mau pergi merantau untuk berkuliah di kota sebelah, mama dan papanya menangisinya 7 hari 7 malam layaknya hajatan besar.

Sekarang Bonita tinggal di kos-kosan yang dekat dengan kampus ia berkuliah, nama kosnya adalah “ARIES” singkatan dari (Anggap Rumah Istana Engkau Sendiri), sungguh unik nama dan kepanjangan dari kos tersebut. Saat memasuki teras kos terdapat banyak bunga melati yang wanginya menusuk hidung, mungkin sebagian orang akan merinding mencium bunga melati yang banyak sekali di depan kos tersebut. Namun, Bonita tidak percaya akan hal-hal yang mengandung mistis seperti itu.

Tinggal di kos-kosan ini Bonita merasa senang karena banyaknya teman-teman yang menemaninya, beda dengan ia ketika berada dirumah. Bonita ketika dirumah sering menyendiri.

Di kos Bonita mempunyai teman belajar sekaligus teman akrabnya. Namanya Ria, Bonita memanggilnya mba Ria karena lebih tua darinya 2 tahun. Bonita dan Ria dekat layaknya saudara kandung. Bonita menganggap Ria sebagai kakaknya. Ria selalu menemani Bonita ketika sarapan dan juga mengkhawatirkan sesuatu yang berkaitan dengan Bonita.

Kedekatan mereka berdua juga diketahui oleh orang tua mereka. Mama Bonita selalu menelepon setidaknya dua hari sekali ke Ria untuk memastikan anaknya tersebut tidak macam-macam. Bonita pikir mamanya seperti rentenir yang menagih hutang saja selalu meneleponnya setiap saat.

Ria juga selalu menemani Bonita belajar atau mengerjakan tugas hingga larut malam, seperti malam ini Bonita dan Ria sedang duduk di ruang tv dan sibuk dengan laptopnya masing-masing.

“Duh, cape banget ngurus tugas kuliah tiap hari” keluh Bonita.

“Ya, namanya juga kuliah Bocil, kalau tugasnya ngurus negara baru tuh repot hahaha” ucap Ria yang memanggil Bonita juga dengan sapaan Bocil sambil terkekeh.

“hahaha bener juga” balas Bonita.

“Oh iya, besok aku mau pulang ke rumah, soalnya ada acara. Jadi, besok bakal berangkat pagi tapi pulangnya sore kok. Jadi kita malamnya masih bisa ngerjain tugas bareng lagi” ucap Ria.

“Oke deh mba, janji ya besok malam temenin belajar lagi ngerjain tugas-tugas yang numpuk ini” ucap Bonita.

“Pasti dong bocil akuu” balas Ria sambil mengelus kepala Bonita.

***

Pagi ini cerah, sebelum Ria berangkat pulang kerumahnya, ia dan Bonita sarapan bubur ayam. Kebetulan ada tukang bubur yang selalu nangkring di depan kos. Sekilas info, Bonita termasuk golongan orang-orang yang makan buburnya diaduk, sedangkan Ria termasuk golongan orang-orang yang makan bubur tidak diaduk. Mereka memakan bubur ayam tersebut dengan lahap dan habis seketika.

Setelah menghabiskan satu mangkok bubur ayam. Ria bersiap-siap untuk berangkat, ia mengenakan jaket hijau dengan celana denim serta rambut hitam panjangnya digerai. Jarak dari kos ke rumah Ria cukup jauh dan menempuh waktu sekitar 1 jam.

“Kalau dilihat-lihat outfit hari ini terinspirasi dari ojek online ya mba?” ucap Bonita.

“Lah iya, bener juga cil nanti disangka ojol beneran lagi akunya” ucap Ria.

“Ya udah gih, mba Ria berangkat buruan, nanti keburu telat. Hati-hati ya mba” ucap Bonita sambil melambaikan tangan.

“Oke, bye bocil tunggu aku malam ini ya” ucap Ria sambil mengegas motornya dan perlahan jalan menjauh meninggalkan Bonita.

***

Angin malam sepoi-sepoi memasuki kos melalui ventilasi dan juga celah kecil dari pintu. Bau melati dari luar teras kos menusuk hidung, kali ini baunya lebih kuat. Sudah jam 9 malam Ria belum balik-balik juga, Bonita yang lelah menunggu di ruang tv untuk belajar bersama akhirnya balik ke kamarnya. Bonita pikir mungkin Ria menginap di rumahnya.

Jam terus berdetik dan suara rintikan hujan mulai terdengar. Sekarang sudah jam 11 malam dan belum ada tanda-tanda Ria mengabari Bonita melalui handphone-nya.

Tiba-tiba ada yang mengetuk pelan pintu kamar Bonita dan berkata dengan suara serak. “Bocil.. ini mba Ria ayo sini mba temanin belajar” ucap orang yang mengetuk pintu yang ternyata Ria.

Bonita yang mendengarnya, langsung membuka pintu dan membawa laptopnya ke ruang tv. Benar saja, itu Ria sedang duduk di sofa masih mengenakan baju yang dikenakannya tadi pagi dengan wajah yang pucat.

“Mba Ria kenapa lama banget? Mending mba mandi dulu aja, terus istirahat deh” ucap Bonita.

“Gapapa, ini mba temanin kamu aja” ucap Ria dengan senyumannya yang pucat dan dengan mata sendu.

Waktu terus berlalu, sekitar setengah jam mereka duduk di ruang tv. Hanya suara ketikan laptop Bonita dan derasnya hujan di luar yang menemani keheningan malam itu. Ria dari tadi sama sekali tidak bersuara dan hanya menatap Bonita.

Tiba-tiba handphone Bonita berdering, menghancurkan keheningan yang dari tadi menyelimuti. Tertulis di layar handphone “Mama Mba Ria”.

“Loh mba, ini mama mba tumben banget nelpon aku apalagi udah tengah malam gini” ucap Bonita kebingungan.

“Angkat aja” balas Ria.

Mendengar perkataan Ria, Bonita akhirnya mengangkat panggilan masuk itu.

“Halo, dek Bonita” ucap mama Ria pelan, dapat terdengar suara sesegukannya. Sepertinya beliau menangis pikir Bonita.

“Iya tante kenapa ya?” balas Bonita.

“Ini tante mau kabarin, baru ada sinyal dari tadi susah nelpon dek Bonita. Jadi gini, Ria udah nggak ada dek” ucap mama Ria yang makin terdengar suara isak tangisnya.

“Hah, apa sih tante. Nggak ada apanya?” tanya Bonita sambil melirik kearah mba Ria yang sedang tersenyum dengan bibir pucatnya menatap Bonita.

“Ini Ria udah meninggal dek Bonita, Ria tadi dibegal orang dijalan dan lehernya terkena sayetan pisau cukup dalam, akhirnya Ria menabrak mobil yang melaju didepannya” ucap mama Ria sesegukan.

“Tante nge-prank Bonita yaa, iya kan?” tanya Bonita yang masih berpikir positif menghilangkan pikiran negatif dan rasa takutnya sekarang ini. Bonita berharap jika mama Ria hanya membuat konten youtube saja, karena mama Ria mempunyai channel youtube bernama MCPM (Mama Cantik Pintar Masak).

“Ini beneran Bon-” Balas mama Ria diujung telepon yang tiba-tiba mati, sepertinya karena faktor jaringan.

Bonita yang mendengar kabar dari mama Ria, langsung memeriksa Ria yang berada didepannya. Bonita menyingkap rambut panjang Ria yang hitam nan tebal itu. Benar saja apa yang diucapkan oleh mama Ria, terdapat sebuah luka di leher Ria dan darahnya terus mengucur keluar.

Tiba-tiba Ria memegang tangan Bonita dan mengelus kepala Bonita. “Iya aku udah nggak ada Bocil, tapi aku kan udah janji mau nemenin kamu belajar malam ini” ucap Ria menatap Bonita dengan matanya yang sendu dan senyuman pucat yang mengerikan serta darah yang terus mengalir dari lehernya.

Bonita yang akhirnya menyadari situasi sekarang, langsung menjauh dari Ria. Bonita yang dulunya tidak percaya hal mistis kini berubah menjadi sangat percaya. Badannya kini melemas, jantungnya berpacu cepat, perasannya campur aduk antara sedih, takut, dan kebingungan. Tanpa Bonita sadari air mengucur deras keluar dari matanya. Bonita menangis.

Andai saja sekarang ini adalah program acara uji nyali. Bonita pasti akan melambaikan tangan ke kamera dan mengatakan “Aku tidak kuat”.

 

*) Artikel penulis ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi sparklingcommunication.web.id