Oleh : Elfrida Sentyana Siburian

Mahasiswa Universitas Mulawarman Program Studi Ilmu Komunikasi

Bulan malam, seolah menyapaku mengingatkanku dengan seseorang yang seperti bulan dan cahaya dalam setiap langkahku. Setiap melihatnya, semangatku kembali lagi-menyala. Walau hanya sebatas foto, dia telah menjadi bintang arah jalanku untuk melangkah di esok hari. Dia seorang sosok laki laki yang membuatku terpukau yeah, Seorang kakak senior bernama Dwiyafet Paramma, pria kelahiran 4 September ini membuatku mengerti banyak hal. Dia keren, berwibawa, dan mahasiswa berprestasi serta aktif dalam berbagai organisasi. ’’have a dream” dan aku berhak bermimpi. Itulah kalimat pertama yang kudengar darinya. Bertemu tanpa disengaja dan beruntung bisa dipertemukan dengannya dalam suatu acara.

Suatu ketika aku pernah berfikir akankah aku bisa menjadi sepertinya. Walau tak pernah melihatnya secara langsung namun aku sangat mengidolakannya. Malam telah tiba, kudengar tetes-tetes hujan berjatuhan mengajakku untuk membaringkan tubuhku di atas tempat tidur, sembari mengingatkanku akan perkataan sang Senior. Jemariku mulai menari-nari diatas sebuah benda persegi panjang yang kusebut sebagai handphone. Kuberanikan diriku mengirim pesan untuknya. Tak lama setelah itu, terdengar bunyi dari handphoneku yang ternyata itu adalah balasan pesan darinya. Seakan seperti mimpi melihat pesan darinya, air mataku bermain-main di atas handphone ditemani jemari yang semakin cepat menari-nari.

Takdir memberiku sebuah keindahan. Tak kulewatkan waktu itu, kuberanikan diriku mengetahui lebih dalam kehidupan dan perjalanan sang Idolaku. Sesuatu yang tak pernah kembali, sebuah lembaran cerita yang sudah tertulis, yang tak akan dapat dihapus, tak dapat diulang namun dapat diingat. Kulontarkan berbagai pertanyaan yang selama ini terbesit di pikiranku yang sudah kurangkai sebelum aku mengirim pesan untuknya. Jemariku semakin lincah dan otakku yang semakin cepat untuk berfikir membuatku tak dapat mengendalikan jemariku. Kuperkenalkan diriku dan kutanyakan semua isi hatiku kepadanya. Kulihat jawaban pesan darinya yang santun membuatku semakin ingin tahu sosoknya. Karena kesantunannya itu, membuatku semakin mengidolakan nya dan tak mau menggantikannya dengan orang lain.

Yeah, meskipun sebenarnya aku sudah punya idola sejak aku SD, tetapi yang kuidolakan itu rata rata para artis dan pembicara yang pernah aku lihat di tv, aku bertanya dalam hati jika ada orang yang kukenal membuatku terinspirasi dan orang tersebut bisa aku ajak untuk berbagi cerita, dan bertanya langsung kenapa tidak. Itulah yang membuatku langsung bergerak untuk menuliskannya dalam tulisanku, yang kemungkinan pada saat itu salah satu dosen kami meminta kami untuk menuliskan figur yang memotivasi kami sosok dosen cantik nan tegas Ibu Kezia. Malam menyambut membuatku segera mengerjakan tugas dari sang Dosen sembari mengingat semua pesan dan cerita serta pengalaman dari sang idola. Satu hal yang mau kuceritakan saat pertama aku menanyakan banyak hal kepadanya yaitu “bagaimana sih bang cara abang memanajemen waktu abang antara berorganisasi dan berkuliah sehingga abang itu selalu enjoy bahkan menciptakan banyak prestasi baik akademik dan nonakademik?” ucapku. Dengan tegas dia berkata ”Jadi aku itu orang yang selalu menerapkan yang namanya skala prioritas. Aku selalu menerapkan itu” katanya. “Mana yang lebih mendesak disitulah akan aku pilih untuk aku kerjakan, dan segera hapus kegiatan yang tidak bermanfaat bagi kita misalnya main game, stalking instagram orang, bahkan hal hal yang sama sekali tidak penting untuk kita lakukan sebagai mahasiswa.” Mendengar itu aku tersipu malu karena aku salah satu orang diantaranya. Tetapi aku menjadikan itu sebagai motivasi dan teguran. Itulah kalimat yang selalu aku ingat dari beliau, tak pernah bosan aku mengulang untuk membacanya di whatsaapku.

Tatapan yang seakan tak mau lepas dari layar hpku sambil berbicara kepada diriku sendiri dan berkata seolah aku yang paling berkuasa. Sambil mencoba memahami setiap kata untuk mengerti setiap penjelasannya. Saat itu aku mulai sadar akan gaya hidupku sebelumnya, yang dulunya aku tak pernah dengar bahkan menerapkannya kini aku menemukannya pada idolaku.

Tanpa kusadari air mataku mulai berjatuhan, bibirku tak mampu lagi untuk berkata. Aku tersadar dan termenung diam mengingat sudah banyak waktu yang telah kubuang untuk pekerjaan sia-sia. Aku sebelumnya tak pernah tau mengatur waktuku lebih maksimal. Aku selalu fokus kepada hal yang membuatku berprestasi di sekolahku tanpa ada niat untuk mengikuti organisasi sekolah karena aku tak tahu apa yang akan terjadi saat aku mengikuti keduanya. Berharap waktu dapat kembali, mengubah semuanya menjadi lebih baik.

Saat malam itu juga aku membuat janji dan komitmen dalam hidupku. Kuhapus air mataku yang berjatuhan, dan menghapus semua kebiasaan buruk yang dulu. Tak peduli seberapa sulit aku melangkah, tak peduli seberapa sulit aku memulainya yang kutahu aku pasti bisa melakukannya dan menjadi seperti sang idolaku. Tetap berjalan tanpa ada rasa takut, biarkan kegelapan pergi meninggalkan. Saat itu aku kembali bangkit, karena sang idolaku membuatku optimis. Kuputuskan untuk mengubah kebiasaan hidupku, dan menjadi versi terbaik dari diriku sendiri.

Hari-hari berlalu, tak satu haripun kulewatkan untuk selalu mengingat pesan darinya, perlahan tapi pasti kuatur waktuku semaksimal mungkin, tanpa ada satu detik pun terbuang untukku bersantai lagi. Kuterapkan apa yang sang Idola ceritakan. Semakin hari aku semakin maksimal dalam mengatur waktuku, kubuat skala prioritas sama halnya seperti yang diterapkan sang idola yang membuatku membuka mata, tersadar dan mulai melangkah. Tangisan sebelum fajar menyapaku, dalam tangis aku berdoa. Di malam sunyi yang melanda dengan tetesan air mata kututurkan setiap harap dan rinduku kepadaNya.

Sang idolaku sudah mengajarkanku banyak hal bahkan sudah menyadarkanku untuk mengubah hidupku lewat setiap kata-kata darinya. Tanpa kusadari, kini aku sudah pintar memanajemen waktuku, terbukti lewat setiap hal positif yang kulakukan dan dengan menyibukkan diriku dengan berbagai hal yang positif seperti kuliah, seminar, serta mengerjakan tugas-tugasku. Tak ada lagi waktuku untuk berfikir mengeluarkan uang, yahhh kusadari setiap melihat postingan temanku yang olshop aku tak bisa menahan seleraku. Puji Tuhan saat aku mulai mengenal seniorku, banyak perubahan yang terjadi dalam hidupku. Aku tahu bagaimana aku harus mengatur waktuku sebaik mungkin, bahkan mengatur keuanganku sendiri.

Hari berikutnya aku selalu senang dan bersemangat untuk mencoba keluar dari comfort zone Ku. Akan kuberikan yang terbaik untuk orang-orang yang kucintai mimpi yang akan segera terwujud dan bukti untuk setiap perkataan idolaku bahwa aku bisa menjadi sepertinya. Terimakasih idolaku, aku akan melihatmu sebagai bintang yang jauh disana,,,,bintang itu begitu jauh itulah idolaku Dwiyafet, aku akan melihatmu dari jauh seperti aku melihat bintang di langit saat malam hari. Jangan pernah bosan lakukan yang terbaik untuk Tuhan. Pengetahuan tak terbatas dan lakukan sesuatu dengan totalitas. Be the best version of yourself and giving your best. Bijaklah dalam menggunakan waktumu supaya tak ada penyesalan. Itulah kata-kata terhebat darinya, yang membuatku memintal inspirasi dan mimpi yang lebih tinggi. Kutitipkan pesan indah untukmu agar kau selalu diberikan kesehatan karena kau adalah idola sekaligus inspirasi terhebatku ‘Bang Yafet’. Teruslah berusaha mewujudkan mimpimu sampai idolamu menjadi sainganmu.

 

*) Artikel penulis ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi sparklingcommunication.web.id