Oleh : Carmenita

Mahasiswa Universitas Budi Luhur Program Studi Ilmu Komunikasi

“Kringggg!!!!!!!!!”, bel pulang sekolah tanda jam pelajaran telah berakhir membuyarkan lamunanku. 10 soal aljabar yang ditugaskan oleh pak Mamat tidak kusentuh sama sekali, jam terakhir di hari senin membuat otakku 10 kali lebih malas untuk berpikir, yang ku pikirkan hanyalah kasur empukku dan masakan ibuku di rumah.

Kutengok teman sebangkuku yang juga sahabatku tengah merapihkankan alat tempurnya ke dalam tas “Del, lo langsung pulang?” tanyaku, “Ya iyalah mau ngapain lagi gua, emangnya lo kerajinan setiap hari pulang maghrib” ocehnya. Aku menghiraukan oceh Dela kemudian merogoh ponsel ku yang ada di tas, menyalakan data seluler, dan membaca pesan-pesan yang masuk. Kubaca perlahan, sejauh ini hanya ada pertanyaan dari rekan-rekan osis ku dan guruku yang menanyakan tentang rencana kegiatan LDKS kelas 10 yang akan dilaksanakan akhir pekan ini. Hingga tiba mataku membaca satu pesan yang membuatku membatu seketika

(1 unread message “Albert : tadi kemana? kenapa ga ibadah?”.) 

Aku melangkah keluar kelas bersama Dela, kemudian berpisah di lorong lantai 2 dan aku melangkah menuju ruang osis. “Derby!” teriak seseorang, ternyata Oji ketua osisku, “Eh ji? Rapat kan hari ini?” sapaku, “Iya nih, padahal gua lagi banyak tugas malah ada rapat dadakan gini” keluhnya, “Halah lo mau rapat sampai besok pagi juga tugas-tugas lo kelar aman terkendali, lo kan ajaib” jawabku, dan dia hanya tersenyum kecil, “Ka Oji, ka Derby” sapa dua orang adik kelas yang lewat berpapasan dengan kami , “Haii!” balas kami berdua bersamaan, “Yang itu ga disapa juga?” tanya oji kepadaku yang sempat membuatku bingung apa maksudnya, sampai aku mengikuti arah pandang matanya dan menangkap apa yang dia katakan. Aku terkejut dan memukul kecil lengan Oji. Albert yang aku lamunkan selama jam pelajaran terakhir di kelas tadi, muncul di depan mataku. Sambil memegang bola volley, dia sedang berbicara dengan temannya yang juga aku kenal. Lantas aku mempercepat langkahku berharap dia tidak menyadari keberadaanku.

Pak Hendra, pembina osis ku tengah menjelaskan detail rencana kegiatan LDKS yang akan datang. Banyak yang harus dipersiapkan oleh aku dan rekan-rekan osisku yang lain. Terhitung sudah seminggu berturut-turut kami melaksanakan persiapan kegiatan ini. “Derby, bagaimana persiapan atribut untuk kegiatan disana?” tanya Pak Hendra, “Derby!” panggil beliau sekali lagi. “Eh, iya pak?” ternyata aku melamun sehingga tidak mendengarkan panggilan dari Pak Hendra. Seluruh mata di ruangan ini menuju ke arahku, kemudian Santi rekan osis yang duduk di sebelahku mengulang pertanyaan Pak Hendra. “Untuk atribut dan perlengkapan sudah 50% disiapkan pak, ada beberapa barang yang sudah dipesan dan akan selesai dalam beberapa hari ke depan” jawabku, “Baik, kamu persiapkan dengan baik ya” perintah Pak Hendra, “Baik pak” kataku. Perjumpaan dengan Albert tadi membuatku tidak bisa berkonsentrasi penuh pada rapat kali ini.

Rapat berakhir tepat saat langit mulai menggelap, aku dan rekan-rekan yang lain bersiap untuk pulang. Saat di luar ruangan aku mendengar suara yang familiar, ternyata Oji tengah berbicara dengan Albert yang adalah teman satu kelasnya. Tidak sempat menghindar, Albert kemudian memanggil namaku, “By, pulang sama gua ya”. Aku membatu dan bingung kemudian tanpa sadar mengangguk.

Aku dan Albert berjalan menuju parkiran dengan membisu, setelah sampai tepat di sebelah motornya dia mengenakan helmnya dan aku setia menunggu di sebelahnya sampai dia mempersilahkanku untuk naik. Aku menaiki motornya dengan canggung dan motor bergerak keluar sekolah.

Langit senja mengiringi perjalananku dan Albert, sampai tidak aku sadari Albert menepikan motornya di salah satu warung makan, “Makan dulu ya, laper abis eskul” katanya dan aku mengangguk. Tidak banyak obrolan ketika kami makan sampai akhirnya kami melanjutkan perjalanan kembali. Di perjalanan aku berusaha untuk diam dan tidak melihat Albert melalui kaca spion motor. “Mau sampai kapan lo gantungin gua by?” tanya Albert dengan nada sedih, aku yang tau Albert akan membahas ini setiap kali kita bertemu hanya diam, kemudian melihatnya melalui kaca spion dan tidak memberikan jawaban apapun. Aku memberikan jawabannya hanya dalam pikiranku “Tolong tunggu ya, sama yang lama belum bisa sembuh sakitnya, gua gamau lo jadi pelampiasan. Tapi gua gabisa boong, gua udah jatuh sama lo”.

Selesai aku berdialog dengan diriku sendiri, motor Albert telah sampai di depan rumahku. Aku turun dan menatap matanya lalu mengucapkan terima kasih. Albert diam, matanya mengisyaratkan banyak maksud dan aku mengerti. Namun aku memilih untuk tidak memberikan respon apapun dan memilih untuk tersenyum. Kami saling berpandangan lumayan lama sampai aku memutuskan kontak mata kami, “Yaudah gua balik dulu ya” ucap Albert dengan senyum pedih dan dia menancapkan gas motornya kembali. Seketika mataku basah dan mulutku bergumam, “Tolong mengerti dan sabar ya Al”.

*) Artikel penulis ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi sparklingcommunication.web.id