Oleh : Muhammad Hendi Al ‘Ishar

Mahasiswa Universitas Mulawarman Program Studi Ilmu Komunikasi

*KRINGGGGGG!* Sudah pagi ternyata. Ah.. seperti biasa, alarm ini mengganggu dan membuatku terbangun meski tidak dalam perasaan damai. Tidak bosan-bosannya aku terbangun sendiri di apartemenku. Orang-orang berpikir kalau aku adalah orang yang kaya karena bisa menyewa satu unit kamar di apartemen ini. Lokasinya pun sangat strategis dan menenangkan. Padahal, sebenarnya aku bukanlah orang yang kaya. Beruntung, aku tinggal di sini karena difasilitasi tempatku bekerja. Aku bekerja sebagai kurir di suatu layanan kurir terbesar di negeri ini. Menjadi kurir merupakan pekerjaan yang tidak kusangka sebelumnya. Awalnya aku berharap bisa bekerja apapun. Maksudku, bukankah harapan tersebut sudah sangat biasa dan wajar? Tentu saja. Masa-masa ini juga masa-masa sulit untuk mencari kerja.

Ternyata semesta memiliki rencana lain. Sekarang aku bersyukur bisa menjadi kurir dengan gaji yang cukup lumayan. Uang makan, tempat tinggal, dan transportasi sudah terjamin, kurang nyaman apalagi. Tentu saja aku menjalankan pekerjaan ini dengan sebaik-baiknya. Sekarang tidak terasa sudah 2 tahun aku bisa bertahan.

“Aku harus bergegas.” Ujarku masih berada di atas kasur sembari melihat jam. Cepat-cepat aku pergi ke kamar mandi meski suhu pagi ini masih sangat dingin. Saat menggosok gigi aku berpikir, “Hari ini ntar dapat orang yang bagaimana, ya?” Memang setiap kali menjadi pengantar barang aku sudah menemui bermacam-macam manusia dengan bermacam-macam watak dan pola pikir. Hmmm.. aku pastinya berharap semoga bertemu dengan manusia yang baik dan paham tentang hal kecil seperti bagaimana berperilaku baik kepada siapapun serta hal yang cukup rumit seperti bagaimana sistem belanja daring bekerja.

Selesai mandi, aku mengeringkan badanku dan mengenakan seragam. Sebelum berangkat, aku sarapan dahulu dengan membuat telur setengah matang ditambah sayur kangkung yang ibuku beli kemarin. “Ibu yang baik, dia mengantarkan sayur ini setiap hari meski dia sendiri juga sibuk.” Gumamku dalam hati sambil melihat sayur hangat yang sangat menggiurkan untuk disantap. Setelah selesai makan, aku pun membersihkan piringku, lalu mengamankan kamarku dengan mengunci rapat-rapat, dan aku pun berangkat.

Tiba di kantorku, seperti biasa aku menyapa teman-temanku dan kebetulan aku bertemu Irpan teman lamaku yang juga menjadi rekan kerja. Ia adalah orang yang aktif, cerdas, namun terkadang bisa membuat kesal. Meski begitu, dia orangnya baik dan perlakuannya lucu kalau lagi santai. Kami merupakan teman baik saat SMA dan sempat lost contact karena sibuk setelah kelulusan. Tak disangka, kami bisa bertemu lagi. Aku senang bisa bertemu kembali dengan orang yang sudah kukenal sejak lama meski lost contact.

“Woi bro rajin bener segini udah datang, biasanya molor.” Katanya mengejekku. Aku menjawab, “Hahahah kacau lu, gw kemarin tuh telat bukan karena molor tapi motor gw kelindas sampah minuman. Isinya keluar dan muncrat sana-sini. Asli dah mau ga mau musti balik lagi cari celana dan sepatu yang kering.” Ya kemarin memang benar-benar ada insiden yang membuatku telat masuk kerja. Untung saja hanya ditegur secara ringan.

Setelah bercanda dengan Irpan, aku pun masuk ke ruangan khusus berisi barang-barang yang harus kami antar. Aku melihat ada paket yang belum diantar, paketnya lumayan besar dan isinya sedikit berat. Tertulis bahwa isinya kumpulan produk kecantikan atau semacam perawatan wajah. Mungkin perempuan adalah penerimanya atau bisa juga laki-laki. “Hmmm… mungkin produk ini mahal. Nama penerimanya juga seperti nama brand.” Aku melihat-lihat informasi yang ada di luar paket. Memang benar sekarang juga lagi ramai produk seperti ini sejak promosi besar-besaran di media sosial. Ah entahlah… aku tidak begitu paham hal seperti ini, mungkin nanti aku juga harus segera mencari tahu.

“Pan ini ga diantar? Tumben biasanya kalau yang gede gini pasti duluan digarap.” Tanyaku kepada Irpan. Dia menjawab, “Oh kagak. Itu mah baru masuk tadi pagi sebelum lu datang. Lu aja ya yang antar!” Hmmm.. ya sudahlah karena memang tugasku sebagai kurir maka haruslah aku yang mengantarnya.

Ternyata sesuai dugaanku, ini adalah paket berjenis COD. COD, Cash on Delivery… jenis paket yang memberi mimpi buruk kepada para kurir. Jujur, aku belum pernah sama sekali mengantarkan paket COD karena bagian ini dulunya bukan tugasku. Aku sebenarnya adalah seseorang yang selalu mendapat tugas mengantar paket non-COD. Namun karena sekarang kepala perusahaan sudah berganti dan aturan pun juga berganti, akhirnya aku mendapat pekerjaan untuk mengantar paket dengan jenis apapun. Ternyata hari ini tiba juga saatnya untuk mengantar paket COD ini.

Sontak aku berpikir, mungkin ini akan menjadi hal yang buruk seperti kejadian yang sudah-sudah. Aku melihat di internet pasti ada saja drama antara kurir yang mengantar paket COD dengan penerimanya. Akhirnya makin lama aku berpikir bahwa penerima paket COD yang sudah berumur tua atau boomer rata-rata memiliki pemikiran yang keras kepala. Jika harus menghadapi mereka, aku juga harus merelakan habisnya tenagaku untuk 1 minggu ke depan.

Aku pun memeriksa alamatnya, “Hmmm… aku pernah ke sini waktu kecil dulu.” dan sepengetahuanku daerah tersebut terkenal dengan daerah yang cukup strict karena banyak orang tua paruh baya. Aku jadi ingat di sana pernah dimarahi karena sewaktu kecil sangat menyukai mengendarai sepeda dengan menyelipkan gelas plastik di dalam rodanya sehingga menimbulkan suara layaknya motor balap. Saking kerasnya suara yang dihasilkan, aku dihadang orang tua di sana dan dia mengancamku dengan parang. Tentu saja aku takut dan akhirnya aku pun pergi ke tempat lain. Aku jadi penasaran, apakah orang tersebut masih hidup.

Tanpa menunda lebih lama, aku pun mengantarnya. Aku antar secepat mungkin. Di luar cuaca tidak begitu bersahabat karena sedang berawan dan mungkin akan hujan. Sekitar 10 menit aku berkendara, ternyata hujan mengguyur pelan-pelan lalu dengan sangat deras. “Astaga neduh dulu dah!” Ujarku dalam hati. Cepat-cepat aku berkendara menuju minimarket yang memiliki tempat khusus untuk berteduh.

Aku berkendara dengan sangat cepat dan tidak melihat kanan-kiri. Sungguh berbahaya. Bahkan sempat melewati polisi tidur dengan sangat keras sampai aku sendiri pun kaget. Beruntung akhirnya bisa aku sampai ke tempat berteduh.

Bodohnya aku, saat memeriksa paket di belakang ternyata tas paket terbuka lebar. Mungkin masalah dengan retsletingnya. Aku melihat paket bagian atas sudah basah terkena air. Buru-buru aku lap sekering mungkin. Aku jadi was-was kalau ada paket yang hilang karena ada yang mencuri. Ternyata firasatku ada benarnya. Aku sempat kebingungan di mana paket COD yang kubawa tadi. Padahal sudah terlihat jelas karena warna pembungkusnya berbeda. Aku mencari-cari dan tidak ada. Akhirnya kusimpulkan, “Waduh kacau paketnya hilang.”

Aku berpikir skenario terburuknya adalah paketnya hilang dicuri atau hilang karena aku terlalu cepat dalam berkendara. Aku harus mencarinya. Aku tidak ingin mengecewakan penerima paket tersebut. “Sudah kena hujan, paketnya malah hilang. Kacau bener hari ini.” Aku mengeluh dengan perasaan kecewa.

Hujan masih menumpahkan airnya meski sebatas gerimis saja. Setidaknya aku sudah bisa menembusnya dengan jas hujanku. Mengenakan jas hujan, aku keluar dan mencari paket yang hilang. Aku juga sudah memastikan kalau retsleting tas berisi paket-paket yang harus diantar sudah tertutup rapat dan tidak terbuka karena terkunci dengan aman.

Saat di jalanan, jalanan menjadi becek sekali. Aku takut paket itu menjadi sangat kotor. Aku melihat-lihat berdasarkan jalan yang kulalui tadi. Sekitar 20 menit aku bolak-balik ternyata tidak membuahkan hasil. Setelahnya, 10 menit aku mencoba bertanya orang di sekitar apakah ada yang melihat paket tersebut, mereka mengatakan bahwa tidak melihatnya sama sekali karena juga tidak tahu bentuk paketnya. Semakin lama aku semakin takut. Apa yang harus kukatakan kepada ketua di tempatku bekerja nanti, aku tidak mau ditegur dengan SP1 karena biasanya juga saat bekerja, aku tidak pernah menghilangkan paket seseorang.

Ah.. lelah sekali berputar-putar di lokasi yang sama hanya untuk mencari paket itu. Aku kelelahan dan mau tidak mau harus istirahat lagi di lokasi terdekat. Saat di jalan aku berhenti di bawah lampu lalu lintas, aku melihat bungkusan aneh bersandar di dekatnya. Ternyata itu adalah paket yang kucari! “Wah akhirnya bisa ketemu juga.” Ucapku karena senang. Cepat-cepat kuambil paketnya sebelum lampu lalu lintas menyala hijau. Setelah kuambil, aku pun lanjut bergegas untuk mengantarnya. Saat mengantarnya, aku singgah sebentar di tempat yang aman untuk membersihkan paketnya. Ternyata paketnya mudah dibersihkan, syukurlah karena bahan plastiknya juga tidak rusak. Aku akhirnya bisa mengantarkan paket tersebut dengan tenang.

Sesampainya di rumah penerima paket, ternyata ia adalah orang yang dulu pernah memarahiku. Berarti kemungkinan paketnya ini punya anaknya atau kerabatnya. Tidak kupikirkan sebelumnya, ternyata ia sangat ramah. Dia bahkan sempat menyuruhku minum teh hangat sebentar di teras rumahnya karena memang setelah hujan membuat suasana masih cukup dingin. Namun, aku menolak karena harus tetap bekerja hari ini tanpa menunda-nunda lebih lama lagi.

Aku sangat senang karena ternyata dia merupakan orang yang baik. Mungkin memang benar kalau diri kita baik ke seseorang, maka seseorang tersebut akan baik kembali ke diri kita. Syukurlah masih ada manusia yang ramah meski usianya sudah sangat tua. Ternyata internet tidak selamanya benar. Aku pun melanjutkan untuk mengantarkan paket lainnya setelah dari sana.

Saat matahari sudah senja, aku pun akhirnya bisa kembali beristirahat. Kembali ke kantor untuk mengurus hal yang harus diurus, dan kembali ke rumah. Sesampainya di rumah, aku membuat es coklat dengan atasan biskuit susu untuk penghibur diriku yang sudah lelah. “Ah.. menarik sekali kejadian hari ini.” Ujarku sambil melihat ke arah jendela dengan langit yang menguning dan akan menggelap. Meski tadi sempat hujan, aku masih merasa kepanasan dan berkeringat karena banyak mengeluarkan tenaga untuk hari ini.

Esok adalah hari baru. Aku pasti akan bekerja lagi dan hari ini merupakan pengalaman penting bagiku. Aku harus mulai mengecek perlengkapan sebelum berangkat mengantar barang agar kejadian hilangnya paket tidak terulang kembali.

*) Artikel penulis ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi sparklingcommunication.web.id