Oleh : Eksa Tri Imarti

Mahasiswa Universitas Mulawarman Program Studi Ilmu Komunikasi

Ketika aku berumur belasan tahun, saat aku masih SMP, aku selalu memupuk rasa percaya diri karena aku yakin sekali orang lain juga memiliki jalan hidupnya masing-masing. Dari caraku berpakaian, caraku berteman, caraku berbicara di depan umum, aku selalu menerapkan bahwa ini aku dengan gayaku. Cara itu berhasil padaku dan bisa aku pegang teguh sampai aku masuk ke jenjang perkuliahan. Orang lain dengan segala pencapaiannya dan caranya masing-masing untuk menjalani hari kurasa adalah sebuah perspektif lain yang bisa membuatku berpikiran luas.

Aku termasuk orang yang santai dan tidak suka untuk membandingkan diriku dengan orang lain. Aku terlahir di keluarga yang sangat bisa menghargai perjalanan masing-masing individu di rumah tanpa harus membandingkan dengan perjalanan orang lain. Untung saja di rumahku tidak menganut prinsip “liat tuh anak tetangga!” hehe.

Aku sangat merasa ini sangat mempengaruhi perjalanan hidupku kala itu. Aku diajarkan untuk menghargai segala yang sudah kulakukan asal aku bertanggung jawab atas apa yang aku kerjakan dan lakukan. Ketika aku mendapatkan nilai jelek dan kegagalan pun keluargaku tidak pernah menjatuhkanku dan membuatku tambah kecewa. Mereka selalu memberiku semangat dan bisa membantuku untuk bangkit dan memulai kembali apa yang aku tuju.

Dengan perlakuan itu di rumah, seperti yang aku jelaskan tadi, aku sangat percaya dengan diriku sendiri. Kegagalan itu adalah hal yang biasa dan tidak perlu malu. Selalu harus mencoba kembali dan memanfaatkan kesempatan yang ada. Prinsip ini semuanya sangat melekat pada diriku sampai aku lulus SMA.

Benar kata orang, pada saat memasuki masa perkuliahan, kita memang harus siap mental. Kian tahun kian bertambah umur, pandangan pun semakin luas dan pertimbangan pun makin banyak. Seketika keinginanku sejak dulu untuk menjadi mahasiswa dan dewasa menghilang begitu saja. “Apa ini? dewasa yang kuinginkan ternyata hanya berbicara tentang kebebasan. Belum dengan segala bebannya dan hal lainnya. Ahhh!” itu adalah isi kepalaku ketika prinsip tentang kepercayaan diriku mulai luntur perlahan.

Dunia perkuliahan di mana jika kita tidak membaca dan mencari tahu sendiri tentang materi di kelas lebih lanjut, kalian akan tertinggal dari teman-teman yang lain. Jika mau lebih bisa dan mempunyai pemahaman lebih lagi, harus mencari sendiri dan belajar mandiri. Bukan seperti di sekolah yang semua materinya selalu di “suapi” sehingga dengan modal memahami penjelasan guru sudah sangat cukup untuk mempersiapkan ujian. Keaktifan organisasi juga dipertanyakan sebagai bekal untuk bisa masuk ke jenjang pekerjaan dan bisa mempunyai tanggung jawab dan leadership untuk kedepannya. Lalu networking yang harus segera dibangun dan dibuat sebanyak-banyaknya yang pastinya akan menguntungkan diri kita sendiri nantinya. Serta melihat percapaian teman-teman yang seumuran sudah semakin baik dan semakin bersinar. Rasanya kita tertinggal dan ditinggalkan sendiri. Ya, dunia ini bebannya semakin banyak.

Merenung…

Berpikir…

Overthinking…

”Am I strong enough for this phase?” tanyaku pada diriku sendiri.

***

Membuka media sosial untuk menghabiskan waktu memang paling bisa melupakan masalah-masalah yang dirasakan akhir-akhir ini. Dari Instagram, Twitter, dan Tiktok dan terus berulang di sekitar aplikasi tersebut. Konten media sosial itu seakan bisa membuatku lari dari semua yang membuatku pusing di dunia nyata. Daya tariknya seakan membuatku tenggelam ke dalam dunia fana itu dan seakan-akan menghilangkan beban di pundak sementara. Mari kita sebut ini pelarian.

Suatu hari, aku yang sedang asyik scrolling Instagram bertemu salah satu postingan tentang pencapaian seseorang yang aku kenal. “Congrats, ya! Kamu keren banget!” ucapku. Lalu dibalasnya dengan terima kasih. Aku pun terdiam sambil melihat fotonya yang berbahagia dengan pencapaiannya. Senang sekali melihatnya tetapi tidak bisa dipungkiri ada perasaan yang terbesit seperti “Mengapa aku tidak bisa?”. Ini sempat membuatku termenung dan sedih memikirkan masa depanku. Seakan – akan aku kehilangan kepercayaan diriku ketika melihat orang lain bisa mendapatkan pencapaian yang luar biasa sedangkan aku tidak.

Aku melanjutkan aktivitasku di Instagram dan aku pun bertemu dengan suatu unggahan tentang Self Love dan berisikan seperti prinsipku saat aku masih umur belasan tahun yaitu prinsip tentang semua orang mempunyai jalan hidupnya masing-masing. Membaca postingan ini, aku tersadar dan bertanya pada diriku “Kemana ya hilangnya prinsip ini di dalam diriku?”

Seketika aku terdiam lagi dan pikiranku campur aduk. Niat awalku dengan membuka media sosial untuk lari dari perasaan – perasaan ini gagal. Aku bermonolog dan bertengkar dengan diriku sendiri

“Kamu sudah berbuat apa hari ini? Coba lihat orang di luar sana. Sudah banyak yang mereka lalukan dan kamu hanya diam di sini masih scrolling Instagram?” Ah tidak apa – apa. Suatu hari aku pasti bisa seperti itu. Eh memangnya akan bisa ya? Apakah ada waktu untukku untuk bisa mendapatkan pencapaian yang memuaskan dan keren di mata orang lain? Tapi aku harus bisa menyayangi diriku sendiri. Apapun yang terjadi aku hanya punya aku. Tapi, apakah yakin kamu sanggup untuk tetap menyayangi dirimu sendiri ketika kamu merasa belum melakukan apa – apa?” lalu monolog di dalam kepalaku semakin panjang dan semakin menjatuhkan dan meragukan kebisaanku dan berakhir mempertanyakan “Apakah aku layak untuk ada di dunia ini dengan kualitasku sekarang? Atau aku akan selalu jadi beban keluarga?”

Perasaan dan dialog di dalam kepala semakin runyam dan kurasa sangat berlebihan. Tapi tidak bisa dibohongi, pada saat memasuki fase dewasa ini, perasaan sangat sensitif dengan hal apapun.

 

***

Aku menutup aplikasi Instagramkku, lalu aku matikan smartphone yang kumiliki dan aku duduk sambil berpikir. Aku mengingat masa lalu bagaimana aku bisa mendapatkan rasa percaya diri dan tidak terganggu dengan pencapaian orang lain. Aku sangat fokus pada hidupku sendiri. Aku ingin kembali ke masa di mana aku tenang dan tidak banyak overthinking memikirkan masa depan, Memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini dan apakah aku bisa sanggup melewati ini semua? Aku pikir perasaan ini ada di dalam hatiku karena banyaknya rasa cemas dan rasa takut yang terbendung. Mengkhawatirkan masa depan berlebihan kan tidak baik juga. Kemungkinan buruk dan skenario terburuk seakan-akan jadi model utama di dalam kepala. “Sesulit inikah dewasa?” dalam hatiku berkata.

”Ah! Aku kesal. Ini bukan diriku yang kukenal. Dimana percaya diriku yang sudah ku pupuk sejak lama? Mana diriku yang selalu kubanggakan tanpa harus melihat pencapaian orang lain? Mana diriku yang selalu saja bisa memahami bahwa hidupmu ya hidupmu dan hidup orang lain bukan urusanmu!” Teriakku di kamar sambil melepas amarah. Aku memilih untuk memaksa diriku tidur agar amarahku berkurang.

 

***

Sejak kejadian overthinking karena melihat unggahan seseorang tentang pencapaiannya itu terjadi, sejak itu aku mulai menata kembali prinsip dan perasaanku. Setiap aku membuka media sosial entah itu Instagram, Twitter, Tiktok dan lain-lain, aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak membandingkannya denganku. Dari pada aku membandingkan diriku, aku harus mengubah cara pandangku untuk bisa belajar dari pencapaian seseorang agar aku bisa sama seperti mereka atau menjadi lebih baik. Perasaan ini memang harus dipaksa agar aku bisa kembali seperti diriku yang dulu dan bisa menjadi individu yang lebih baik dari pada yang sebelumnya. Aku melakukan recall semua kepercayaan diriku yang dulu untuk bisa membantuku untuk melewati masa menuju lebih dewasa ini dan bisa berjuang bersama untuk menjadi seseorang yang luar biasa. Pencapaian orang lain harus bisa memotivasiku, bukan menjatuhkanku. Lalu rasa iri pun tidak bisa membuatku untuk menjadi lebih baik selain menghilangkan rasa iri ini menjadi rasa ingin untuk melakukan hal yang sama agar bisa membangun kualitas diri yang lebih baik.

Akhirnya aku bisa sadar kembali jika membandingkan dan merasa tidak layak itu bukan jalan untuk seseorang menjadi dewasa dengan baik. Perasaan yang terbentuk ketika melihat perjalanan hidup orang lain yang kita rasa lebih baik dari kita harus kita alihkan pada proses perbaikan diri dan menaikkan kualitas diriku sendiri. Menjadi dewasa itu berat, tapi proses dari kita kecil sampai sebesar ini juga bukan hal yang mudah. Syukuri segala proses yang kita punya dan jadilah individu yang lebih keren dari pada dirimu yang sebelumnya dan bukan dari orang lain.

So, this is my story, I will focus on myself and be a queen in my own life. Because we are the best right?”

*) Artikel penulis ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi sparklingcommunication.web.id