Oleh : Kadek Dristiana Dwivayani, M.Med.Kom (Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Mulawarman)

Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia”.

Luapan semangat perjuangan tertoreh jelas dalam ingatan masyarakat Indonesia ketika mendengar pernyataan Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno. Perjuang pahlawan tidak terlepas dari dukungan para pemuda Indonesia yang rela mengorbankan jiwa dan raganya. 28 Oktober 1928, menjadi tonggak sejarah pemuda nusantara dari Sabang hingga Merauke berikrar untuk mengaku bertumpah darah satu, tanah air Indonesia, berbangsa satu, bangsa Indonesia dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Pada masa itu, pemuda Nusantara membulatkan tekad pada satu tujuan yang sama, yaitu merdeka. Tanpa memandang perbedaan suku, agama, ras dan bahasa. Mereka berjuang bersama-sama untuk mengusir penjajah dari tanah air.

Kini, pemuda Indonesia tidak perlu lagi mengangkat senjata untuk berperang melawan penjajah. Lalu pertanyaannya, bagaimana generasi muda saat ini mengisi dan melanjutkan perjuangan para pahlawan?

Ada banyak pilihan cara yang bisa dilakukan para pemuda Indonesia. Saat ini, generasi muda sedang berada pada era industri 4.0 yang berbasis teknologi informasi, dan tidak lama lagi bersiap menuju era society 5.0. Maksudnya disini tantangan setiap generasi muda akan semakin besar dalam menghadapi transformasi sendi-sendi kehidupan. Mulai dari politik, ekonomi, teknologi, sosial, budaya dan berbagai bidang lainnya. Pengaruh transformasi teknologi dan sosial budaya, telah banyak mengubah pola kebiasaan suatu masyarakat, bahkan menjadi sebuah ‘budaya’ sendiri untuk sebagian orang. Ingat dengan lagu ini “bagun tidur kuterus mandi, tidak lupa menggosok gigi….” Merupakan pola kebiasaan yang telah ditanamkan sejak dini kepada anak untuk menjaga kebersihan diri dan kedisiplinan. Namun kini, pola tersebut perlahan bergeser, realitasnya sebagian orang bangun tidur terbiasa untuk melihat smartpone-nya terlebih dahulu. Kebiasaan yang dilakukan terus menerus akan menjadi suatu ‘budaya’ tersendiri pada diri seseorang.

Menurut pandangan Prof. Deddy Mulyana dkk dalam bukunya membedah absurditas budaya dari sudut pandang komunikasi media dan masyarakat menyatakan bahwa pola pikir masyarakat-lah yang menjadi sumber absurditas. Absurd memiliki arti tidak masuk akal atau mustahil. Salah satu contoh kasus absurditas adalah oknum yang memalsukan ijazah sarjananya untuk menjadi kepala daerah. Tentu cara instan ini bukan contoh yang baik. Bagaimana mungkin calon kepala daerah memulai dengan kebohongan tentang riwayat pendidikannya, padahal ia akan menjadi contoh atau role model bagi masyarakat yang ia pimpin. Mentalitas generasi muda perlu diperhatikan, pendidikan berkarakter perlu ditingkatan seperti kejujuran, suportivitas dalam berusaha, daya saing dan beretika sesuai norma-norma yang berlaku.

Hal absurd lainnya ditunjukkan beberapa oknum influencer dan selebgram, rata-rata mereka memiliki usia muda dan produktif. Biasanya mereka membuat konten-konten yang menarik. Namun ada yang melakukan pansos (panjat sosial) akibat suatu skandal atau kasus negatif, agar terlihat lebih eksis, dikenal netizen (warga di internet), sehingga meningkatkan jumlah follower (pengikut). Begitu juga dengan warganet yang turut menyumbangkan aktivitas absurd-nya dengan ‘nyinyir’ di media sosial. Istilah netizen maha benar menjadi ramai diperbincangkan karena suka memberikan kritik atau komentar ‘pedas’ hingga mengarah ke body shaming. Tentu ini juga bukan contoh bijak dalam menggunakan media sosial. Walaupun tidak sedikit influencer yang membuat konten bagus dan berguna. Sebenarnya eksistensi dapat ditunjukkan melalui usaha-usaha yang baik dan memberi pengaruh positif. Gunakan tata bahasa yang baik dalam berkomentar.

Ketika media baru (new media) hadir dan mengisi ruang pribadi dan sosial masyarakat. Kehadiran media baru (internet) membawa perubahan yang sangat signifikan. Telepon genggam (handphone) bertransformasi menjadi telepon pintar (smartphone). Di era keterbukaan informasi ini, segala kebutuhan akan informasi dan hiburan semua ada dalam genggaman. Internet menawarkan kemudahan dan kecepatan. Kemudahan yang ditawarkan janganlah membuat generasi muda menjadi sedikit berusaha. Generasi muda tidak cukup hanya menjadi konsumen teknologi tersebut. Sebagaimana pesan bijak dalam tokoh pewayangan Semar “Urip iku Urup” yang artinya hidup itu dapat berguna dan bermanfaat bagi orang lain. Ciptakan inovasi yang bermanfaat untuk masyarakat banyak, seperti halnya aplikasi komoditas pangan online (e-marketplace pertanian). Aplikasi ini bertujuan untuk membantu memasarkan hasil pertanian dan perkebunan milik masyarakat di desa.

Jatuh bangunnya negara ini, sangat tergantung dari bangsa ini sendiri. Makin pudar persatuan dan kepedulian, Indonesia hanyalah sekedar nama dan gambar seuntaian pulau di peta”. Kata bijak tersebut adalah nasihat dari Mohammad Hatta, bahwa memaknai esensi sumpah pemuda saat ini tentu jauh berbeda dengan masa lampau. Menghargai sejarah, mengambil esensi dan menerapkannya ke dalam kehidupan sehari-hari dengan hal positif itulah yang dibutuhkan bangsa ini untuk mengisi kemerdekaan. Sejarah menorehkan cerita panjang perjuangan para pahlawan, bagaimana pemuda masa kini membangun dan mengisi kemerdekaan tersebut. Produktivitas dan kreativitas adalah representasi kaum muda Indonesia. Diharapkan kaum muda terus belajar, dan menggali potensi-potensi dalam berkarya. Karya yang dihasilkan inilah merupakan cerminan nilai budaya bangsa yang harus dilestarikan dan diperkenalkan hingga ke manca negara.

 

*) Opini ini pernah terbit di media cetak Kaltim Post ( 31 Oktober 2019 )

*) Opini penulis ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi sparklingcommunication.web.id