Oleh : Kheyene Molekandella Boer,M.Ikom

(Dosen Prodi Ilmu Komunikasi, FISIP,Universitas Mulawarman Kaltim)

Teknologi di tahun 2020

Pemikiran pakar teknologi di era lampau, nampaknya kian membuktikan bahwa zaman berlari sangat cepat, secepat kilat merubuhkan batas-batas yang selama ini menjadi bangunan kokoh dan niscaya bagi sebagian manusia untuk bisa masuk kedalamnya. Marshal mc Luhan pernah mengatakan bahwa nantinya dunia akan terhubung dengan sangat mudah seperti apa yang ia sebut dengan ‘global village’ atau pedesaan global. Layaknya karakteristik pedesaan dimana hampir seluruh warga desa mengenal satu sama lain, penuh keakraban. Begitupun di dunia meski terhalang oleh jarak ratusan kilometer dari belahan dunia manapun akan tetap dapat saling berinteraksi dan mengenal dengan bantuan teknologi.

Tahun 2020 adalah tahun bersejarah yang mungkin tidak akan terulang atau jarang terjadi di masa depan. Sebuah tahun yang penuh dengan guncangan-guncangan social. Beragam problematika muncul tak berhenti, mulai dari konflik pejabat teras atas, konflik antar masyarakat hingga bermuara pada munculnya virus yang kini dikenal dengan covid 19.

Kejayaan teknologi ada ditahun 2020, saat semua aktivitas fisik manusia tergantikan dengan mesin. Hampir sebagian besar Negara yang ada didunia memerintahkan rakyatnya untuk mengurangi kegiatan diluar rumah agar korban akibat covid 19 tidak bertambah banyak. Virus mematikan yang hingga kini belum ditemukan obatnya akhirnya menjadi penyebab perubahan gaya hidup manusia masa kini.

Bagaimanapun secanggihnya teknologi, kekuatan komunikasi face to face masih menjadi primadona. Ditengah keasyikan manusia ditenggelamkan oleh puluhan giga kuota data internet, jeritan-jeritan rindu masih terdengar walau untuk sekedar bertemu dengan kawan.  Tak mau ditinggalkan, teknologi-pun semakin pesat memanjakan kita dengan beragam fitur-fitur tebaru. Seolah ingin segera menggantikan segala aktivitas manusia teknologi berlomba-lomba memberikan interaktivitas yang jauh lebih tinggi.

Jika dahulu internet masih memberikan feedback yang terbatas. Namun kini feedback yang kita dapatkan dari komunikasi menggunakan internet tak kalah cepat dengan komunikasi face to face. Misalnya kini tengah popular banyaknya seminar online menggunakan apliksi zoom yang bisa menampung banyak massa. Komunikasi bergerak juga tanpa batas serta feedback yang kita bisa berikan antar peserta seminar dapat didengar dan direspon cepat.

Kampanye dan Seminar Virtual

Teknologi kini seolah menjadi dewa penolong ditengah wabah covid 19. Bayangkan jika saat ini teknologi belum ditemukan, sektor ekonomi suatu negara pasti akan mengalami kehancuran. Masyarakatpun sangat terbantu karena dengan teknologi sebenarnya manusia menjalankan peran ganda. Istilah user content generated (Hesmondhlagh,2010) mengemukakan dalam internet khalayak  akan membuat atau  memproduksi sebuah isi pesan dan sekaligus menjalankan peran sebagai distributor serta menjadi konsumen isi pesan yang mereka buat sendiri.

Konsep diatas menjelaskan pula, bahwa teknologi berupa internet-pun memudahkan kita memproduksi banyak pesan-pesan kesehatan untuk mengantisipasi penularan covid 19 melalui kampanye – kampanye online yang semakin marak digaungkan. Kebanyakan para praktisi, sukarelawan, mahasiswa, dan lapusan elemen masyarakat lebih mudah bahu membahu saat menjalankan kampanye online seperti himbauan mencuci tangan dengan sabun dan menggunakan masker saat keluar rumah.

Selain maraknya kampanye – kampanye virtual juga belakangan ini marak bermunculan seminar online yang dapat diikuti oleh siapa saja melalui perangkat computer. “Kebiasaan” baru ini memungkinkan akan terus berlanjut hingga nanti demi mempersiapkan manusia menuju dunia yang serba canggih dikemudian hari. Disatu sisi hal ii menjadi angin segar bagi sebagian besar masyarakat. Kini, dalam mencari informasi kita tak perlu lagi datang jauh-jauh ke Jakarta mengikuti sebuah seminar yang kita minati. Hanya dengan meng-klik link yang sudah dipersiapkan kita akan dengan mudah tergabiung dalam ruang diskusi yang hendak kita ikuti. Menarik bukan?

Covid 19 memaksa kita untuk kembali ke titik dimana teknologi seolah menjadi satu satunya alat untuk bertahan hidup ditengah wabah pandemic yang masih berlangsung hingga sekarang. Titik ini mengharuskan manusia berfikir kreatif, mencari ide dengan keras agar hubungan social masih bisa berjalan dengan baik, berfikir agar semua pekerjaan masih dapat terselesaikan mesi hanya bekerja dari rumah. Pada akhirnya munculah produk-produk baru berbasis internet seperti seminar dan kampanye virtual yang sedang marak belakangan ini.

Teknologi disatu sisi bak menjadi mata air di padang pasir yang tandus, menghilangkan segala dahaga semua orang yang berambisi melahap innformasi dunia. Namun di sisi lain teknologi menciptakan  rasa keterasingan, kesunyian karena langkanya interaksi langsung yang terjadi dikehidupan kita sehari hari. Pertanyaan selanjutnya yang muncul siapkah kita dengan kondisi tersebut?

*) Opini penulis ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi sparklingcommunication.web.id