Oleh Kheyene Molekandella (Dosen Prodi Ilmu Komunikasi, FISIP , Universitas Mulawarman)

Sudah hampir 2 minggu Indonesia melumpuhkan aktivitas luar dan memilih berdiam diri dirumah. Covid-19 yang menyerang beberapa Negara membuat kita mengambil keputusan yang tak biasa. Social distancing dan Stay at Home adalah beberapa kata yang akhir-akhir ini didengungkan, kata-kata ini diharap mampu mempengaruhi kognitif masyarakat dan berakhir pada perubahan perilaku yang positif. Mengingat jumlah penderita covid-19 di Indonesia semakin bertambah. Menurut data yang didapatkan dari akun chatbox whats-App Covid-19 yang dibuat oleh pemerintah, per tanggal 2 April 2020 jumlah penderita positif Covid-19 di Indonesia sebanyak 1.790 orang, 112 orang dinyatakan sembuh dan sebanyak 170 orang meninggal. Data ini terus bertambah tiap harinya, Maka dirasa perlu mempertegas kesadaran masyarakat untuk melakukan karatina dirumah daripada harus beraktivitas diluar yang ditakutkan berpotensi membawa atau menularkan virus ke masyarakat luas.

Generasi milineal adalah segementasi terbesar dengan ragam karakteristiknya. Salah satu karakteristik yang paling menonjol adalah budaya hang out atau berkumpul bersama teman-teman di tempat minum kopi sambil bercengkrama hingga larut malam. Staf khusus presiden, Adamas Belva Devara mengatakan para milenial adalah generasi penular terbesar  virus covid-19 sehingga perlu terus ditingkatkan kesadaran melalui berbagai cara, mulai dari doktrin-doktrin melalui pesan kampanye hingga pemerintah menggaet para influencer untuk menyampaikan pesan social distancing kepada mereka.

Para milenial juga dinilai memiliki mobilitas tinggi berpindah tempat dan berinteraksi dengan banyak orang, karena usianya yang masih dalam masa produktif inilah milenial dianggap berpotensi menularkan virus terutama ke keluarga dan lingkungan terdekat mereka. Oleh karena itu pemerintah berharap sekali agar para ,ilenial juga mau turut membantu secara positif permasalahan ini. Milenial harus dapat mempertegas sikap, memperdalam pengetahuan tentang virus ini agar tidak lagi ada anggapan-anggapan sepele dan berujung masih banyak ditemukannya para milinial datang ke café-café sekedar untuk nongkrong.

Teknologi juga memudahkan milenial untuk terus mengupgrade pengetahuan tentang covid-19 ini. Dalam kondisi ini, teknologi bukan lagi dijadikan tempat saling sindir dan saling menyalahkan, namun dari teknologi beragam informasi yang berguna harusnya bisa menjadi bekal milenial untuk membentuk pengetahuan dan sikap terkait covid 19. Selain itu dengan berdiam diri dirumah dan memantau perkembangan informasi yang ada. Bahkan dengan fasilitas internet dirumah para milenial dapat membantu melihat bagaimana lalu lintas informasi  terkait covid-19. Misalnya dengan tidak mudah terprovokasi berita hoax dan menduplikasi kembali berita yang belum jelas kebenaranya, sumbernya dan mampu menseleksi berita mana yang benar benar kredibel untuk dikonsumsi dan mana yang tidak.

Selama social distance ini, milenial juga diyakini tetap produktif melakukan banyak hal dirumah, melakukan inovasi sesuai bidangnya masing-masing. Bukan artinya dirumah saja dan bermalas-malasan.Namun diharapkan milenial juga mampu tetap berkarya, berinovasi dan beradaptasi dengan metode pembelajaran yang berbeda yakni daring. Hambatan tidak dapat berinteraksi secara langsung sudah bukan menjadi alasan untuk tidak mengetahui dunia luar, karena teknologi kini semakin canggih justru mempermudah aktivitas kita.

Ini adalah saatnya para milenial menunjukan perannya untuk bangsa, Tanah air sedang merintih dan menangis, namun ada banyak anak muda yang cerdas, tegas siap menyambung kembali senuman tanah pertiwi. Mengusir virus covid-19 dengan perilaku dan pemikiran yang bijaksana. Itu sudah lebih dari cukup. Terimakasih para Milenial.

*) Opini penulis ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi sparklingcommunication.web.id