Oleh : Kheyene Molekandella (Dosen Prodi Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Mulawarman)

Seleksi penerimaan Calon Pegawai Negri Sipil 2019 telah dibuka. Berbagai formasi diserbu oleh puluhan pelamar dari berbagai penjuru nusantara. Doktrin menjadi ASN (Aparatur Sipil Negara) nampaknya masih kental ada di benak sebagian besar masyarakat Indonesia. PNS (Pegawai Negeri Sipil) menjadi pilihan akhir dari sekian banyak jenis pekerjaan dengan beragam alasan seperti : “kalau jadi PNS stabilitas ekonomi lebih baik”.

Dunia memang keras, berbagai cara dilakukan untuk bisa menjadi PNS mulai dari menjamurnya buku – buku latihan soal, les bimbingan belajar khusus untuk tes CPNS, hingga maraknya jimat-jimat yang dijual untuk mempermudah kelulusan saat mengerjakan soal-soal saat tesbahkan ada yang mencoba berkali-kali hingga batas usia yang ditentukan yakni 35 tahun pada umumnya. Menjadi ASN adalah tugas berat karena memberikan hampir sebagian besar hidup untu kepentingan Negara, menjalankan pelayanan public dengan optimal, memiliki integritas yang tinggi dan etika yang baik. Sungguh tanggung jawab yang bukan main-main.

Doktrin yang diturunkan turun menurun untuk menjadi PNS ternyata masih juga tak berlaku bagi sebagain orang. Anak-anak milineal nampaknya sudah banyak menggeser stigma tersebut. Milineal kini banyak memilih terjun ke dunia swasta, yakni lebih tertarik untuk menjadi pengusaha. Kita lihat banyak sekali anak-anak muulai berbisnis seperti memiliki coffee shop, menjalankan online shop dan masih banyak lagi dan tentunya penghasilan yang mereka dapatkan-pun tergolong besar untuk rentan seusia mereka. Ini suatu kemajuan besar, dimana banyak anak muda masih melihat banyak ‘pintu’ atau peluang diluar sana untuk tetap berinovasi bukan sebatas memandang sebuah kesuksesan hanya sekedar dar satu pintu belaka. Yap memang swasta memiliki tantangan tersendiri,penuh resiko dan meski tak punya jaminan hari tua seperti seorang abdi negara justru inilah yang membuat mereka terus kreatif dan berinovasi untuk dapat memaksimalkan potensi diri yang mereka miliki.

Jadi PNS atau tidak, kedua-nya adalah pilihan. Dunia tidak akan runtuh jika Anda tidak memakai seragam kopri dan tidak memiliki nomor induk pegawai sebagai identitas seorang abdi Negara. Kaum milineal diharapkan mampu merubah stigma bahwa bekerja tak harus PNS, yang terpenting bukan status PNS namun mampukah kita memberikan sesuatu hal baik dan turut berkontribusi untuk Negara meski bukan menjadi seorang ASN. Lapangan pekerjaan semakin luas sejak adanya perkembangan teknologi yang semakin pesat. Beragam profesi baru muncul yang bahkan dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah seperti conten creatif dll. Peluang inilah yang harus dimanfaatkan untuk tetap mampu memberikan karya untuk Negara karena itu-pun merupakan salah satu pengabdian kepada Negara.

Meski PNS memiliki nilai prestisius yang tinggi, perlu dipahami bahwa euphoria menjadi seorang abdi Negara memang perlu di apresiasi karena Indonesia butuh tunas-tunas muda dengan gairah yang ingin berkembang dengan cepat. Namun mari bersama-sama secara bijaksana memahami sebuah pilihan hidup. Kini telah banyak pekerjaan yang juga mampu memberikan ruang berkarya yang besar, ruang berkompetisi, bersaing bagi siapapun dan kesempatan itu terbuka luas. Inti dari semua ini adalah tentukan pilihanmu dengan bijak, berprinsiplah dari hidup dan buktikan bahwa kaum muda bisa bergerak maju beriringan dari “lahan” yang beragam dan berbeda-beda, karena untuk membanggakan Indonesia Raya karena semua orang punya caranya masing-masing. Untuk kalian yang sedang berjuang menjadi ASN selamat berjuang dan berikan yang terbaik untuk tanah air kita tercinta.

*) Opini penulis ini merupakan tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi sparklingcommunication.web.id